Modernisasi Pertanian: ICARE Jabar Dorong Petani Kentang Garut Berinovasi dengan Standar GAP
Garut - Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat menjadi lokasi panen kentang program ICARE pada Selasa (2/12/2025). Sebagai salah satu dari sembilan provinsi pelaksana, Jawa Barat berperan penting dalam mendorong penerapan teknologi dan modernisasi pertanian, terutama pada komoditas kentang unggulan Garut.
Kegiatan panen ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Kepala Balai Besar Pengembangan dan Penerapan Modernisasi Pertanian, Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Pasca Panen, Task Team Leader World Bank, Direktur ICARE dan Tim PMU, Biro Perencanaan Kementerian Pertanian, Direktorat Pinjaman dan Hibah Kementerian Keuangan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, PIU ICARE 9 provinsi, Dinas Pertanian Kabupaten Garut, serta petani mitra ICARE. Kehadiran seluruh pihak ini memperkuat semangat kolaborasi dalam mewujudkan pertanian modern yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Panen dilakukan di lahan petani anggota Koperasi Putra Cisurupan Berdaya yang telah mengimplementasikan Good Agricultural Practices (GAP) secara intensif. Salah satu petani, Abdul Wahid, menuturkan bahwa penerapan GAP membawa dampak nyata terhadap hasil panen.
Ia mengatakan, “Melalui penerapan GAP, hasil panen menunjukkan peningkatan signifikan baik dari segi produktivitas maupun kualitas umbi. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa GAP dapat diterapkan secara efektif oleh petani dan layak dipromosikan agar semakin banyak petani mengikuti langkah serupa.”
Dalam sambutannya, Direktur ICARE menegaskan bahwa program ICARE merupakan upaya nyata pemerintah dalam memperkuat kapasitas petani serta mendukung percepatan swasembada pangan. Program ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga mengedepankan inovasi dan efisiensi dalam proses budidaya.
Selanjutnya, Kepala Pusat BRMP Hortikultura, Dr. Inti Pertiwi Nashwari, menyoroti pentingnya pengembangan produk dan penguatan rantai pasok benih.
Beliau menyampaikan, “Perlu dilakukan pengembangan produk melalui penanaman kentang industri serta memperkuat pasokan benih G2 agar kebutuhan produksi dapat terpenuhi secara berkelanjutan.”
Dari pemerintah daerah, Asisten Daerah II Bidang Perekonomian, Dedi Mulyadi, menekankan besarnya peluang Garut dalam menyuplai kebutuhan kentang bagi Jawa Barat.
Ia menuturkan, “Kentang Garut memiliki potensi besar sebagai pemasok hingga 80 persen kebutuhan Jawa Barat. Karena itu, diversifikasi produk penting dilakukan agar komoditas ini memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.”
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengembangan dan Penerapan Modernisasi Pertanian, Dr. Syamsudin, menegaskan bahwa ICARE menjadi instrumen penting dalam memperkuat daya saing petani.
Menurutnya, “Program ICARE hadir untuk membantu petani meningkatkan hasil panen. Dengan penerapan GAP, kita berharap nilai tambah dan daya saing produk pertanian dapat terus meningkat.”
Pada akhir rangkaian kegiatan, Kepala BRMP Jawa Barat menegaskan kembali pentingnya inovasi sebagai kunci kemajuan pertanian Garut.
Ia menyampaikan, “Penerapan GAP dalam budidaya kentang terbukti memberikan hasil yang jauh lebih baik. Peningkatan produksi yang dicapai menunjukkan bahwa pendekatan modern mampu mengatasi berbagai kendala budidaya sebelumnya. Ke depan, inovasi harus terus diperkuat agar petani semakin siap menghadapi tantangan pertanian masa depan.”
Panen kentang melalui program ICARE ini diharapkan tidak sekadar menjadi capaian sesaat, tetapi menjadi tonggak percepatan modernisasi pertanian di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Garut. Keberhasilan penerapan GAP diharapkan mampu menggerakkan lebih banyak petani untuk berani berinovasi, meningkatkan kualitas budidaya, serta memperluas peluang pasar yang lebih kompetitif.